Renungan

Kategori    -  Komentar    
Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya.

Tiba-tiba saja terfikir suatu hal, yaitu umur manusia. Saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana kalo saya tahu bahwa umur saya hanya sampai umur 25 tahun, atau 35 tahun, atau 5 hari lagi. saya terpikir banyak hal yang akan saya lakukan. Saya tertarik untuk berbagi kisah ini pada saudara2 pembaca blog ini. semoga kita bisa diskusi dan mendapat banyak manfaat. jika anda tahu sisa umur anda tinggal 1 tahun, apa saja yang akan anda lakukan untuk mengisi sisa umur itu? mungkin sebagian akan menjawab:


Bersenang-senang jalan-jalan ke tempat indah yang belum didatangi makan sepuasnya setiap hari segera nikah,dll.
Mungkin sebagian orang yang lain memilih:
Memperbanyak ibadah shalat dan dzikir memperbanyak sedekah memperbanyak silaturahim bekerja lebih giat memberikan hak keluarga dan orang-orang disekitarnya,dll.

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya

Saudaraku, salah satu hikmah besar dirahasiakannya bilangan umur kita adalah agar kita tidak tahu kapan kita mati. ketika kita tidak tahu kapan kita akan mati, pada dasarnya kita akan merasa setiap saat bisa jadi ajal kita, maka kita akan selalu berhati-hati dengan tindakan kita. Kita tidak akan tahu kapan kita akan mati. apakah saat remaja? ataukah saat kita sudah tua? dan kita tidak tahu kapan pastinya kita akan mati. apakah hari ini? atau besok? dan kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. apakah saat tidur? apakah saat berkendaraan? ataukah ketika kita sedang membaca Al Quran?

SENJA INI

Senja ini masih tentangmu sepoinya angin masih milikmu raut wajahmu kala itu merona menantang matahari begitu mempesona Kini waktu telah berlalu meski senja selalu menemaniku aku merangkak ditepian hatimu menjauh...ku kayuh hatiku yang rapuh Saat aku mengingatmu hanya satu yg mampu aku lakukan yakni memungut kembali serpihan-serpihan hati yang pernah kau abaikan

LETIHNYA HARI

Letihnya hari yang merangkak menggapai malam, memaksa hatiku tuk bersandar menuntun jiwaku tuk merebah, melepaskan seluruh lelah menggetarkan dawai hati yang patah... saat kurenungkan tlah banyak waktu terbuang dan laku yang tersia hingga penghujung malam mengantarkan mata tuk terpejam .. jika hari ini kan berakhir kuingin esok tak kan pernah datang, biarkan hati dan jiwa ini tertidur dibuai lembutnya pelukan rembulan... Ya Rahman... mohon kekuatan jika esok masih harus kulanjutkan perjalanan..

AKU INGIN SEPERTI ANGIN

Aku ingin seperti angin Yang selalu di ingat oleh semua orang Walau tak seorang pun yang mengenalinya Memberikan ketenangan pada semua orang Memberikan kesejukan pada setiap manusia Tanpa dia mengenaliku Aku ingin seperti angin Yang tak dapat mati Tak dapat sedih Tak dapat menangis Selalu berhembus kemana” Aku ingin slalu di kenang Aku ingin selalu ada saat siapapun membutuhkan ku Tapi aku sadar Bahwa aku bukanlah seperti angin Aku dapat menangis Aku dapat bersedih Aku dapat mati Tapi aku ingin dikenang.

Seandainya ALLAH menghendaki semua manusia mengetahui kapan ia mati, dimana ia mati, dan kapan ia mati, akankah kehidupan dunia ini dihiasi kebaikan demi kebaikan? saya rasa tidak. kemungkinan yang bisa kita bayangkan: sedikit manusia selalu menghiasi umur dengan ibadah lebih banyak manusia terus menerus berbuat dosa hingga akhir hayatnya jauh lebih banyak lagi manusia terus berbuat dosa hingga sedikit sisa umurnya ia bertaubat Saya rasa jenis ketiga akan mendominasi isi dunia. orang-orang seperti ini selalu berfikir bahwa masih ada waktu untuk bertaubat. Dalam kondisi seperti ini, bisa jadi dunia ini didominasi kejahatan dan kriminalitas, maksiat, hedonis, dan sejenisnya. Maka segala puji bagi ALLAH Yang Maha Sempurna perhitungannya. ALLAH sangat memahami betapa manusia senantiasa berada antara kecenderungan yang baik dan yang buruk (QS Asy-Syams: 8), maka ia menyelamatkan manusia dari fitrahnya tersebut, dengan jalan menjadikan umur sebagai hal ghaib yang tidak diketahui manusia. untuk apa? agar manusia selalu berhati-hati dalam hidupnya, dan agar manusia selalu berada dalam kebaikan.


KarangkobarBinfinite
Renungan hati

0 komentar: